DAERAH

Kapendam XVII/Cendrawasih Bantah Kerahkan Pesawat untuk Serang KKSB

Jayapura,visioneernews.com– Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf. Muhammad Aidi menegaskan, tidak ada penggunaan pesawat Helly milik TNI, baik milik TNI AD, AU, AL yang beroperasi di Nduga hingga saat ini, baik untuk kegiatan admistrasi–pendorongan logistik, aparat untuk serbuan dan pengeboman kepada Kelompok Kriminal Separatisme Bersenjata (KKSB).

Kapendam Muhammad Aidi mengutarakan, kejadian tanggal 11 Juli lalu adalah 1 unit Helly milik Polairut yang bertugas untuk mengangkut logistik dari Timika ke Kenyam. “Namun, pada saat akan landing di Bandara Kenyam, pesawat itu mendapat serangan tembakan dari arah Aluguru, sehingga anggota Brimob yang mengawal di pesawat membalas tembakan dari atas pesawat dibantu aparat Kepolisian yang sedang melaksanakan pengamanan di darat,” kata Muhammad Aidi, Senin (16/7/18).

Akibat insiden tersebut tidak diketahui, aparat keamanan tidak mengetahui apakah ada korban jiwa atau tidak dari pihak penyerang. Karena aparat keamanan, kata Muhammad Aidi, tidak melaksanakan pengejaran lanjutan, walaupun mereka laporkan ada jatuh korban.

Jenazah korban penembakan KKSB diterbangkan ke Timika

“Jika ada korban, mungkin  dari pihak KKSB yang melaksanakan serangan, bukan masyarakat biasa. Karena aparat keamanan hanya membalas tembakan ke arah datangnya serangan,” jelasnya.

Muhammad Aidi mengungkapkan bahwa sebelumnya telah dilaksanakan pertemuan dan rapat antara pihak TNI, Polri, dan Pemda Nduga dengan menyatakan bahwa Aluguru adalah tempat yang dijadikan markas oleh KKSB. Mereka terindentifikasi  dari kelompok Mapenduma, Sinak, Tiom , dan lain-lain.

Indikasi awalnya mereka ingin  menggagalkan proses Pilkada di Nduga dengan melaksanakan serangkaian aksi teror. Di antaranya, disebutkan Muhammad Aidi, menembaki pesawat angkutan sipil yang sangat dibutuhkan untuk memasok kebutuhan pokok masyarakat Nduga, membantai masyarakat sipil tak berdosa, bahkan anak kecil pun ikut dibacok.

“Hasil rapat tersebut disepakati bahwa akan dilaksanakan penindakan dan penegakan hukum dengan mengedepankan tindakan Polisioner. Sedangkan aparat TNI tetap melaksanakan pembinaan wilayah. Namun secara insidentil, apabila dipandang perlu, pasukan TNI akan bergerak terhadap sasaran terpilih. Jadi segala tindakan aparat keamanan di Nduga telah dikoordinasikan dengan pihak Pemda setempat,” tuturnya.

Kehadiran aparat Keamanan di Nduga, sambung Muhammad Aidi, khususnya Satuan Brimob dari Kepolisian adalah dalam rangka pengamanan Pilkada sekaligus penindakan dan penegakan hukum terhadap pelaku penembakan pesawat dan pembantaian terhadap masyarakat oleh KKSB.

“Sedangkan pasukan TNI sudah insert sejak lama di Nduga, hingga sekarang belum ada penambahan pasukan,” imbuhnya.

Bupati Nduga melakukan pertemuan dengan aparat keamanan setempat

Muhammad Aidi menepis  keterangan dari pimpinan Komandan Operasi Lapangan dari pihak TPNPB-OPM, Egianus Kogoya, bahwa ada 4 unit pesawat Hellycopter milik TNI AU melaksanakan serangan udara dan pengeboman di Aluguru sangat tidak mendasar. Meskipun yang bersangkutan menyatakan bahwa dia sendiri sebagai saksinya. Itu sangat wajar, karena memang dia dan kelompoknya lah yang menjadi sasaran penegakan hukum oleh aparat keamanan setelah melakukan serangkaian aksi teror dan pembantaian terhadap warga masyarakat tak berdosa.

“Keterangan yang disampaikan saudara Egianus adalah upaya memutar balikkan fakta untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Atau mungkin saudara Egianus Kogoya sudah kelamaan di hutan, sehingga sudah tidak bisa lagi menghitung untuk membedakan jumlah 1 dan 4 atau warna pesawat putih, biru dan hitam,” pungkas Muhammad Aidi.

Kalaupun  yang bersangkutan melaporkan  ada 7 orang anak buahnya yang hilang, Muhammad Aidi menyatakan,  kemungkinan tembakan yang dilancarkan oleh aparat keamanan tepat sasaran. Itu sebagai konsekuensi atau risiko dari suatu aksi kriminal.

Kapendam XVII/Cendrawasih menegaskan bahwa kegiatan kepemilikan dan menggunakan senjata secara illegal dan melakukan perlawanan terhadap kedaulatan negara adalah tindakan melanggar hukum. Tidak pernah dibenarkan oleh hukum dan UU manapun.

“Sehingga sangat disayangkan adanya sekelompok orang yang mengaku pakar hukum dan pemerhati HAM, justru membela pelanggaran hukum dan membela pelaku kekejaman yang tidak berperikemanusiaan. Sebaliknya justru berusaha menyerang aparat keamanan yang hendak melaksanakan penegakan dan penindakan hukum,” pungkasnya.

Pesawat Twin Otter Dimonim Air PK-HVU yang mendapat seramgam teror penembakan

Dari aksi tersebut, kata Muahammad Aidi, aparat keamanan akan terus melaksanakan pengejaran dalam rangka penindakan dan penegakan hukum.  Namun, apabila KKSB secara sukarela mau menyerahkan diri beserta senjatanya kepada pihak berwajib, maka akan dijamin keamanan dan keselamatannya.

“Tetapi, apabila terpaksa harus ditempuh dengan kontak senjata, maka risiko ditanggung oleh masing-masing pihak,” tegasnya.

Dia menambahkan, informasi adanya masyarakat yang lari mengungsi ke hutan, itu tidak benar. Karena di Kenyam, Nduga saat ini situasi kondusif, aktivitas masyarakat normal, para Mama dan pemilik toko sudah mulai buka kios dan berjualan.

Menurutnya, yang dimaksud masyarakat ke hutan adalah masyarakat yang berasal dari Distrik Yuguru, Paro, Mugi, dan Mapenduma yang akan pulang dari Kenyam ke kampungnya masing-masing. Mereka jalan kaki melewati hutan, karena tidak ada dukungan pesawat. Waktu tempuh bervariasi sesuai dengan jarak antara 1-3 hari, Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat Nduga selama ini.

Makanya masyarakat Nduga sangat berharap agar jalan Trans Papua yang menghubungkan Wamena-Nduga dan melintasi Distrik Yuguru, Paro, Mapenduma, Yigi, dan Mbua, dapat segera dioperasionalkan,” bilang Muhammad Aidi.

Sementara terkait adanya info adanya masyarakat Toraja yang eksodus ke Pelabuhan Pomako Timika, Muhammad Aidi menyatakan, setelah dikonfirmasi  dengan Pemda dan aparat keamanan di Nduga,  mereka bukan dari Kenyam, tapi dari Agast, Kabupaten Asmat.  Karena, sejak peristiwa pembantaian masyarakat di Kenyam, belum pernah lagi ada kapal yang masuk, termasuk yang berangkat dari Pelabuhan Batas Batu.

“Kapal terakhir adalah kapal yang difasilitasi Pemda yang berangkat dari Pelabuhan Batas Batu pada tanggal 11 Juni 2018 untuk mengangkut masyarakat ke Timika dan ke Agast, termasuk istri dan anaknya Pak Bupati. Jadi, hingga saat ini belum ada kapal yang berani masuk ke Nduga,” paparnya. (Rif)

 

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close