Uncategorized

Anto Suroto: UKM dan IKM Ruang Usaha yang Seksi

Bagian 2

Anto menjamin produk-produk tas dan aksesoris lainnya bisa menaikkan gengsi karena harganya yang mahal sebanding dengan kualitas produknya. Kulit reptil sendiri biasa digunakan sebagai bahan baku produk branded,  karena memiliki tekstur yang baik, dan tahan lama. Sebanyak 70 persen produk Scano berasal dari kulit ular, 20 persen dari biawak, dan sisanya adalah campuran. Ular yang digunakan adalah jenis Phyton, yang kualitas kulitnya paling tinggi dibandingkan jenis ular lain seperti ular air dan ular sanca. Semakin besar sisik pada tas, harga tas akan semakin mahal.

Seperti apa kiat sukses mantan penjual ikan asin dan roti keliling di Medan ini bisa meraih kesuksesan di bidang usaha industri kreatif, berikut wawancara Syarifudin dan Eko AP dengan Anto Suroto yang juga sebagai Ketua Umum Aliansi Perdagangan dan Industri Kreatif Indonesia (APIKI). Petikannya:

Bagaimana ihwal Anda menggeluti bisnis kreatif di bawah brand Scano Exotic Indonesia?

Ceritanya agak lucu. Sebelumnya, saya banyak membidangi legal aspects yang berhubungan dengan orang asing, khususnya warga Jepang. Lucunya, orang Jepang itu karena tidak memahami bahasa Indonesia secara utuh, dia bilang “bangsa” Indonesia ini bahaya. Ketika dia bilang orang Indonesia itu “bangsa”, saya pun kesal. Saya bilang bahwa  saya bukan bangsa Indonesia. Tetapi merupakan suatu bangsa. Indonesia yang disebut bangsa adalah negara yang besar.

Tujuan dia sebenarnya bagus. Menurut dia, orang Indonesia kalau di-develop menjadi bagus. Apalagi Indonesia merupakan negara kaya sumber daya alam. Jika didukung SDM, peluang pasar  yang bagus, dinaikkan saja kualitasnya produknya, maka out put-nya bagus.

Saya pun mencoba menerima tantangan orang Jepang itu. Walaupun tidak ada dasar di industri kreatif, saya mencoba mendirikan usaha penyamaan dari kulit buaya, ular Phyton, biawak, dan kulit hewan lainnya. Selama mencoba usaha dua sampai tiga tahun saya mengalami kerugian besar.

Tapi saya tidak putus asa, karena tujuan saya membuat usaha ini untuk ekspor.  Kerugian yang saya alami selama dua sampai tiga tahun itu saya jadikan untuk belajar. Mungkin saja jika sudah bisa tembus ekspor dua sampai tiga kali kerugian itu akan tertutupi.

Sejak awal Anda sudah mensasarkan produk industri kreatif ini untuk pangsa ekspor?

Itu hebatnya kalau kita punya proyeksi pasar ekspor. Tapi,kalau kita bermain di retail, nafas kita harus panjang. Karena, kita harus mempunyai banyak karyawan dan strateginya harus bagus. Hal itu pula menjadi tantangan bagi saya. Karena itu, per tiga bulan saya belajar ke Jepang. Saya juga pergi ke Perancis, Italia, dan negara Eropa lainnya sekadar mencari ilmu berbisnis. Saya ingin, apapun produk yang saya hasilkan harus mempunyai aura, ciri khas, dan kualitas. Jadi selama dua, tiga tahun benar-benar belajar menciptakan produk berkualitas yang bisa diakui oleh buyer.

Hal-hal inilah yang bisa kita ambil untuk patokan. Sebab begini, contoh saya mengikuti binaan dari Departemen Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi.  Saya mengikuti kegiatan di pemerintahan untuk mengukur, seperti apa yang dilakukan pemerintah, dan ouput­-nyaapasajayang saya dapatkan. Di sisi lain, saya juga bisa memberi pembelajaran kepada para pemula, jika kita ingin mengikuti pameran sebaiknya memperhatikan ketepatan, keakuratan, dan nafas kita juga harus diukur. Entah itu pameran lokal, domestik, maupun internasional.

Para pelaku usaha pemula harus memahami pula standarisasi produk agar bisa diterima pasar internasional?

Hal ini menjadi salah satu kelemahan di UMKM kita. Jika dia mau buka wirausaha dengan modal nekad, bentur sana, bentur sini, nekad saja tanpa ada ukuran, ya hasilnya tidak baik. Di negara lain, orang yang ingin menjadi UMKM itu ada ukurannya. Misalnya harus masuk pendidikan, mengikuti pendampingan selama setahun, dan ada serifikasinya. Dari situ, mereka diukur, kira-kira bagaimana kekuatan produknya dengan kekuatan pasar.  tujuannya untuk mengukur agar dia bisa naik kelas.

Sejak mendirikan usaha kreatif di tahun 1990, saya memang sudah memfokuskan untuk tujuan ekspor saja. Saya ingin membuktikan bahwa UKM dan IKM (Industri Kreatif Menengah) bisa kita tingkatkan. Bagi saya, UKM dan IKM merupakan “kue” yang sangat “seksi”. Karena bahan bakunya ada di Indonesia, tenaganya lokal, kualitasnya bisa dipelajari, pasarnya terbuka, dan rakyatnya konsumtif.

Page 3
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close