FIGUR

Sasaran Bidik Erzaldi Rosman Membangun Babel

H. Erzaldi Rosman, SE, MM, sepertinya sudah tak sabar membangun Provinsi Bangka Belitung menjadi lebih maju dan berkembang dari kondisi sebelumnya. Erzaldi bersama Abdul Fatah yang dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Bangka Belitung periode 2017-2022 di Istana Negara, Jumat, 12 Mai 2017, sudah langsung bekerja pada Senin, 15 Mai 2017.

Sebelumnya, pria kelahiran Pangkalpinang, Bangka Belitung, 31 Oktober 1969 ini pernah menjabat Bupati Bangka Tengah periode kedua, yang dijabat sejak 17 Februari 2016. Sebagai putra daerah Babel, ketika menjabat Bupati Bangka Tengah, Erzaldi sudah mendambakan Bumi “Serumpun Sebalai” mampu mengeksplorasi potensi sektor kelautan yang lebih luas dibandingkan darat, dikelola secara inovatif dan cerdas untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Erzaldi memahami, Bangka Belitung merupakan provinsi kepulauan yang terkenal sebagai penghasil timah. Namun, menurutnya, sangat ironis sebagai daerah penghasil timah yang memberikan laba sebesar Rp 673 miliar kepada pemerintah pusat—berdasarkan data 2014, masih ada problem kesejahteraan bagi masyarakat Babel.

Erzaldi bersama  Abdul Fatah pun ingin membawa Babel lebih maju dan berkembang dengan mengusung visi dan misi:  “Babel Sejahtera, Provinsi Maju yang Unggul di Bidang Inovasi Agropolitan dan Bahari dengan Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan yang Efisien dan Cepat Berbasis Teknologi.”

“Kita sudah lama mendambakan Pulau Bangka dan Belitung tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan, tapi juga ke sektor lain, yaitu pariwisata pertanian, dan kelautan,” kata Erzaldi dalam sebuah kesempatan wawancara Syarifudin dari Majalah Visioneer di Bandara Soekarno Hatta.

Program pembangunan Pemerintanahan Bangka Belitung di bawah kepemimpinan Erzaldi Rosman tak hanya menyentuh sektor pariwisata, pertanian, dan kelautan. Gubernur Erzaldi juga memprioritaskan kebutuhan dasar masyarakat dari  sektor pendidikan, kesehatan, hingga ke bidang Hak Asasi Manusia (HAM).

Torehan prestasinya di bidang HAM, misalnya, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  kembali masuk dalam jajaran daerah berprestasi. Kali ini, Provinsi Babel menerima penghargaan Kategori Pembina Kabupaten dan Kota Peduli HAM.

“Peringatan Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia ke-69 di Solo membawa berkah bagi Bangka Belitung. Dalam acara yang bertajuk kerja bersama peduli hak asasi manusia, kita mendapatkan penghargaan Kategori Pembina Kabupaten dan Kota peduli HAM,” ujar Erzaldi di laman resminya Erzaldi Rosman Djohan.

Disebutkan Erzaldi, penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. “Penghargaan dibidang HAM ini tentunya melengkapi penghargaan lainnya yang sudah kita terima,” kata suami Hj Melati Erzaldi, SH.

Sebelumnya, Babel menerima penghargaan dari Kemendagri tentang Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tertinggi kedua Se-Indonesia, penghargaan dari Kementerian Tenaga Kerja kategori Produktivitas Toko Madu Pelawan Bangka Belitung, dan Penghargaan dari Kemendagri kategori Satpol PP Penjaga Serumpun Negeri dan Halal Award dari Lembaga MUI.

“Kami siap untuk terus berinovasi agar Bangka Belitung dipandang di kancah nasional,” kata Erzaldi optimis.

Berikut kutipan wawancaranya:

Bisa dijelaskan program skala prioritas pembagunan di Provinsi Bangka Belitung, selain memberdayakan sektor pertambangan?

Sebenarnya program pembangunan di Provinsi Bangka Belitung masih berkorelasi dengan program-program ketika saya menjabat Bupati Bangka Tengah. Saya sudah merencanakan, langkah apa yang akan dilakukan setelah Provinsi Bangka Belitung tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan.

Sekarang saya sudah menjadi Gubernur Babel. Maka,  inilah saatnya memulai menjalankan program pemberdayaan sektor lain, pasca kita tidak lagi terlalu bergantung pada sektor pertambangan. Program saya adalah memperkuat juga sektor pariwisata, pertanian, serta kelautan.

Karena, sangat disayangkan Kepulauan Bangka Belitung yang notabene memiliki potensi laut lebih banyak dibandingkan darat, tetapi kebijakannya itu tidak menyentuh sektor kelautan. Memang, kita tidak bisa mencabut atau memisahkan dari sektor pertambangan dalam waktu singkat. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa lepas dari sektor pertambangan. Jadi harus kita mulai.

Bagaimana cara memulainya?

Untuk memulainya, step by step sektor pertambangan kita kurangi. Selanjutnya kita sudah mulai membiasakan masyarakat Babel untuk kembali bercocok tanam dan bernelayan. Dan yang paling didukung oleh pemerintah pusat adalah mengalihfungskan sektor pertambangan ke sektor pariwisata.  Langkah kami juga sudah didukung oleh pemerintah pusat dengan menjadikannya Pulau Belitung sebagai sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus di bidang Pariwisata.

Tahun  ini, di Pulau Bangka ada dua kawasan KEK Pariwisata yang akan dibangun. Jadi, disamping kita mengisi KEK Industri yang sudah ditetapkan pemerintah pusat, seperti KEK  Industri yang ada di Mentok, Bangka Barat, dan Tukak Sadai di Bangka Selatan.

Untuk mensukseskan tiga program unggulan ini, yaitu pariwisata, pertanian, dan kelautan, tentunya kita sangat butuh konektivitas antara Bangka Belitung dengan daerah-daerah lain. Jadi, selain ada konektivitas melalui udara, konektivitas laut juga penting. Bukan berarti di Babel tidak ada pelabuhan. Pelabuhan sudah ada, tapi tidak efektif. Kenapa? Ketinggian airnya sangat dangkal, hanya 5 meter. Jika 5 meter, tonase kapal yang masuk ke pelabuhan hanya kapal berukuran kecil, yaitu 2000 sampai 3000 gross tonage.

Jika hanya kapal berukuran 2000 sampai 3000 GT yang bersandar di pelabuhan, otomatis harga barang di Babel naik. Inilah salah satu sebab tingginya inflasi yang terjadi di Bangka Belitung tinggi. Jika inflasinya masih tinggi, tentu tidak bisa mendukung program pariwisata kita. Karena tawaran pariwisata kita akan mahal, tidak bisa bersaing dengan daerah lain.

Anda akan menambah pembangunan pelabuhan di Babel?

Sekarang, kita sudah mempunyai program pembangunan pelabuhan dalam skala besar. Kedalaman airnya pun memadai untuk masuknya kapal-kapal besar, sekitar 13 sampai 14 meter. Pelabuhan itu akan kita bangun di Tanjung Berikat.  Saya juga memogramkan pembangunan pelabuhan yang sudah ada Belinyu. Khusus di Belinyu, memang kita harus menghancurkan bebatuan atau batu karang yang menutup jalur pelabuhan ini. Dan itu butuh amdal yang baik dan benar, sehingga jangan sampai pelabuhan ini mau ditingkatkan, batu dihancurkan, alam tidak bersahabat, bisa rusak pelabuhan kita.

Bagaimana dengan kemungkinan adanya benturan regulasi untuk merealisasikan program ini?

Pasti ada benturan. Contoh regulasi berkenaan dengan pariwisata, sekarang di daerah-daerah pinggir pantai itu banyak penambang. Khusus penambang di area pariwisata, kami sedang membuat regulasi dalam Perda Zonasi Laut. Karena itu, kita harus saling menghargai. Jangan sampai anugerah tambang timah yang diberikan Allah kepada kita, tidak terangkat atau tidak terambil, sementara pariwisata yang baru mau muncul ini, tersendat, gara-gara penggalian tambang timah.

Solusinya?

Kita memberikan solusi. Silahkan tambang dikelola, tetapi diselesaikan dalam tempo tiga tahun. Kami juga mengimbau agar perusahaan tambang menggunakan sumber daya manusia dan alat yang lebih friendly dengan lingkungan. Mudah-mudahan solusi ini dapat berjalan dengan lancar.

Terbukti dua KEK yang ada di Bangka “diselimuti” oleh kawasan pertambangan. Setelah saya fasilitasi, bersyukur, antara pengelola kawasan KEK dengan pengelola pertambangan timah, khususnya PT. Timah, sudah terjadi kesepakatan. Insya Allah Maret 2018 mulai mereka sudah mensepakati kesepahaman itu.

Jadi, ketika kawasan wisata sudah mulai pembangunan di KEK, tambang silahkan berjalan. Tetapi, ketika pariwisata ini sudah hadir, tidak boleh ada lagi penambangan.

Di sisi lain, ketika proses pembangunan pariwisata ini dilaksanakan, kita bisa memberdayakan infrastruktur dari yang sudah dikerjakan dari sektor pertambangan. Karena biaya pembangunan infrastruktur pariwisata mahal. Jadi, sisa-sisa dari hasil penambangan ini bisa dibuat semacam lagoon atau pelabuhan. Otomatis biaya pembangunan infrastruktur di pelabuhan ini menjadi lebih murah. Sehingga nanti kapal-kapal pesiar bisa berlabuh di pelabuhan ini, karena kedalaman airnya sudah sangat layak untuk didarati.

Artinya, nanti sektor pertambangan akan berubah menjadi sektor pariwisata?

Jika sudah terjadi sinkronisasi, maka penambangan akan berkurang, pariwisata akan naik. Karena kita tidak melihat Bali seperti yang sekarang ini.  Perwajahan Bali yang sekarang adalah perwajahan Bangka Belitung 40 tahun yang lalu. Jadi euforia kita jangan terlalu berharap besar kepada sektor pariwisata. Untuk menjadikan sektor pariwisata kuat, kita harus punya modal. Modalnya dari mana? Ya itulah sumber daya alam yang masih ada di Babel kita manfaatkan untuk pembangunan pariwisata.

Bagaimana dengan pemberdayaan sektor pertanian?

Hal ini juga sama dengan sektor pertanian. Ketika pertambangan marak, pertanian kita ditinggalkan masyarakat. Coba bayangkan, bagaimana petani bisa menanam lada dengan baik, karena tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah sejak 50 tahun terakhir ini.  Sekarang kita mulai lagi, bagaimana menanam lada secara praktis, benar, dan baik. Misalnya bibit lada yang ditanam harus berkualitas agar lada kita bisa bersaing dengan lada dari negara lain.

Bersama istri, Hj Melati

Kita jangan hanya terpengaruh bahwa rasa lada kita itu sangat pedas. Karena Vietnam dengan teknologinya, sudah bisa mencampur unsur-unsur kimia, sehingga  yang tadinya lada mereka tidak pedas, menjadi pedas. Tentunya unsur kimia itu bisa kita lawan dengan unsur alam.

Karena itu, kita jangan terus berpikiran bahwa lada kita tidak ada saingan. Karena hal ini bisa membuat masyarakat manja. Dan itu terbukti sekarang. Mereka berpikiran, pokoknya lada saya masih laku. Padahal belum tentu. Sekarang pengekspor lada terbesar adalah Vietnam.

Karena itu, di tahun 20018, kita akan membangkitkan kembali komoditi lada di Babel. Kita akan memberikan bibit lada secara gratis kepada petani sebanyak 6 juta pohon. Penananam 6 juta pohon lada diperkirakan membutuhkan lahan seluas 1000 hektar. Karena itu, PPL kita juga harus menguasai bagaimana cara menanam lada yang baik dan benar. Misalnya untuk memupuk tanaman lada, tidak serta merta menggunakan pupuk kimia, lebih baik menggunakan pupuk kompos.

Karena menggunakan pupuk kompos yang banyak, tentunya di sektor peternakan harus ada sapi. Karena itu, bagaimana kita mengedepankan agar sektor peternakan ini semakin berkembang di Babel. Intinya, saya ingin Babel bisa swasembada daging sapi. Dan kotoran dari sapi itu bisa dijadikan sebagai bahan pembuat pupuk kompos.  Inilah program sinergitas, yang saling berketergantungan.

Kadang imbaun kepala daerah belum cukup menggerakkan program di daerah. Sudah ada regulasi yang mengatur agar sektor peternakan ini bisa berjalan secara massif di Babel?

Saya mengikuti peraturan pemerintah yang sudah ada. Salah satunya  tentang pengelolaan sawit yang memiliki lahan satu hektar, wajib menyediakan satu ekor sapi. Pada Januari 2018, saya membuat Perda yang mengatur kepemilikan lahan sawit per 10 hektar, dia wajib memiliki satu ekor sapi. Sekarang perusahaan sawit swasta kurang lebih memiliki lahan 200 ribu hektar, berarti harus ada 20.000 ekor sapi di lahan sawit itu. Belum lahan-lahan sawit yang dikelola masyarakat lainnya.

Kembali ke persoalan pembangunan pelabuhan agar bisa disandarkan kapal-kapal pesiar. Kapal-kapal pesiar dari mana saja yang kemungkinan akan singgah di pelabuhan tersebut?

Jembatan Emas Ikon baru Babel

Saya sangat yakin kapal-kapal pesiar itu akan datang dan mendarat di pelabuhan Babel. Saya juga menjalin kerja sama dengan perusahaan kapal pesiar di Singapura. Jadi nanti rutenya Singapura-Bangka-Belitung-Serawak, dan kembali lagi Singapura lagi. Perjalanan melintasi rute-rute itu membutuhkan waktu enam hari.

Umumnya masyarakat luar hanya tahu ‘Laskar Pelangi’ yang ada di Belitung Timur. Bagaimana caranya orang bisa mengetahui bahwa Babel itu tidak hanya terkenal dengan Laskar Pelanginya?

Kita tinggal membuat jembatan kebijakan, yaitu dengan memudahkan sarana transportasinya. Kapal yang berlayar dari Bangka ke Belitung harus lebih banyak. Jadwal penerbangan pesawat pun harus lebih banyak. Saat ini kondisi di Bangka sudah ramai yang rutenya melalui Belitung. Sebaliknya di Belitung sudah yang rutenya melalui Bangka.

Tahun ini sudah ada penambahan dua rute penerbangan, yaitu Yogyakarta-Bangka, dan Bandung-Bangka. Rute Bandung-Bangka sudah berjalan. Untuk rute penerbangan Yogyakarta-Bangka akan dilaksanakan minggu depan. Tahun depan, saya berharap, aka nada penambahan rute penerbangan Medan-Bangka, dan Lampung-Bangka. Semua perjalanan ke Bangka otomatis harus ke Belitung.

Jadi, karena jembatan kebijakannya sudah ada, tidak perlu khawatir. Yang penting, jangan karena kita terpisah pulau, lantas kita menjadi tidak ada ikatan.

 

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close