BUDAYA

Delapan Negara Tampilkan Seni Tari Kontemporer di IDF 2018

Jakarta,visioneernews-Plt Kepala Dinas Pariwisata (Kadisparbud) DKI Jakarta, Asiantoro, secara resmi membuka gelaran Indonesian Dance Festival (IDF) 2018 di Gedung Teater Besar Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Selasa (6/11/2018) malam, pukul 20.30 WIB. IDF ke-14 yang diikuti 8 negara diselenggarakan di berbagai tempat di Jakarta dari 6-10 November 2018.

Para penonton yang menduduki deretan kursi di lantai 1, 2, dan 3 Gedung Teater Besar Jakarta, Taman Ismail Marzuki begitu terkesima dengan penampilan tari kontemporer asuhan koreografer asal Korea Selatan, Eun-Me Ahn. Bersama  keenam penari lainnya, Eun-Me Ahn menyuguhkan beragam gerakan seni tari selama 60 menit yang diberi judul “Let Me Change Your Name'”.

Plt Kepala Dinas Pariwisata (Kadisparbud) Jakarta, Asiantoro, para pendiri dan pimpinan IDF, serta para penonton memberikan applause  hangat atas penampilan tarian kontemporer nan artistik Eun-Me Ahn bersama keenam penari lainnya.

Koreografer asal Korea Selatan, Eun-Me Ahn, seusai menampilkan tari kontemporer berjudul “Let Me Change Your Name” di Pembukaan IDF 2018

Pembukaan IDF 2018 diawali  penampilan tari tradisional dari Banyumas “Lengger Lanang” dan pameran arsip “Sekilas Perjalanan IDF pada pukul 19.00 WIB.  Malam itu, pimpinan IDF juga memberikan penghargaan kepada maestro tari kontemporer Indonesia, almarhumah Gusmiati Suid.

Gusmiati Suid, sepanjang kariernya telah melahirkan karya-karya tari terkenal, di antaranya Tari Kabar Burung, Api dalam Sekam, dan Tari Rantak pada 1976. Beliau juga memimpin Sanggar Tari Gumarang Sakti bersama putranya, Boy G. Sakti.  Almarhumah bahkan telah melahirkan banyak karya seni tari bertaraf nasional dan internasional melalui sanggar tersebut. Penghargaan diterima oleh putri Gusmiati Suid yang diserahkan oleh Prof. Edi Sedyawati dan Dr. Julianti Parani.

Untuk diketahui, IDF hadir berdasarkan keprihatinan dosen-dosen yang juga merupakan seniman tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) akan sepinya kegiatan seni tari bertaraf internasional. Dari kondisi tersebut, menggugah mereka untuk menghadirkan IDF pada 1992. Para dosen Fakultas Seni Pertunjukan tersebut adalah Sal Murgiyanto, Nungki Kusumastuti, Maria Darmaningsing, Melina Surjadewi, Dedy Luthan, Tom Ibnur. Mereka didukung Farida Oetojo, Sardono W. Kusumo, dan lainnya untuk menggarap festival tari kontemporer, yang eksistensinya tetap terjaga hingga tahun ini.

Selama lebih dari dua dekade, IDF berkibar di dunia tari internasional. Sebagai acara biennale, IDF mendorong munculnya begitu banyak koreografer terkemuka sambil berusaha keras untuk menampilkan festival bergengsi dan bertaraf internasional setiap kali acara berlangsung. IDF tidak hanya menampilkan karya-karya terkenal di dunia internasional, namun juga berupaya menemukan bakat-bakat para koreografer muda Indonesia untuk ditampilkan di IDF.

Program-program festival ini meliputi: pameran tari yang terdiri dari showcase (Kampana) dan main performance, workshop (akademi IDF), presentasi, seminar, penerbitan publikasi seni tari, kompetisi, master class, commission, works, berbagai program stimulasi karya-karya baru, dan berbagai presentasi karya-karya inovatif dari para seniman muda potensial.

Tarian tradisional dari Banyumas “Lengger Lanang” ikut semarakkan pembukaan IDF 2018 di TIM

Seno Gumira Ajidarma, Rektor IKJ mengatakan, IDF harus jadi wadah pembelajaran, bukan saja bagi seniman tari, tapi seniman lain, termasuk peminat seni.

“Kegiatan-kegiatan pada pelaksanaan IDF harus dapat menjadi penentu standar kualitas dan meningkatkan penyelenggaraan acara menjadi lebih baik. Pergelaran yang ditampilkan setiap hari menjadi momentum ritual peningkatan mutu,” kata Seno.

Visi dan misi festival ini berpijak pada konteks pengalaman kultural Indonesia yang hidup dalam kisaran dan pertemuan dari berbagai akar budaya yang sangat beragam. IDF diciptakan sebagai wahana pertemuan kreatif berbasis pengalaman lintas budaya sebagai proses pembelajaran bagi semua orang untuk menjelajahi dan menyelami keragaman kultural dari berbagai bangsa di dunia.

Penyelenggaraan IDF ke-14 tahun ini, menandai tahun ke-26 keberadaannya, dengan tema “Demo/cratic Body: How is Now?” yang melibatkan delapan negara. Negara tersebut, Indonesia, Meksiko, Perancis, India, Jerman, Australia, Korea Selatan, dan Singapura.

IDF ke-14 diselenggarakan di berbagai tempat di Jakarta dari 6-10 November 2018. Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, Perpustakaan Nasional RI, Teater Salihara adalah tempat-tempat di mana pengunjung dapat menyaksikan berbagai pertunjukkan menarik persembahan IDF.

Hingga 2016, IDF telah berhasil menampilkan sekitar 250 karya-karya koreografer terkemuka Indonesia dan karya-karya penting dari berbagai negara Asia, Eropa, Afrika, Australia, dan Amerika. IDF juga didukung oleh para kurator tari internasional terkemuka, yaitu Tang Fukuen  (Singapura), Daisuke Moto (Jepang), dan Arco Renz (Jerman).

IDF mengajak publik Jakarta dan Indonesia untuk merayakan kreativitas budaya yang beragam dengan segala perbedaan identitas. Sehingga,  terjadi dialog guna membangun kehidupan yang lebih indah dengan toleransi serta apresiasi terhadap keberagaman. (Rif)

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close