FIGUR

H. Imron Husein Ajak Masyarakat Betawi Bangun dari Tidur Berkepanjangan

Penulis: Syarifudin Bachwani

PRIA  berkulit kuning langsat ini asli putera Betawi dari Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Meski orang Betawi, logat bicaranya jauh dari kesan kebetawian pada umumnya. Gaya bicaranya lembut, lugas, namun sistematis.  Performancenya pun kekinian. Padahal usianya sudah paruh baya.

Belakangan baru diketahui, background kariernya matang di bidang protokoler Pemerintahan DKI Jakarta. “Saya pernah membidangi protokoler, persisnya sejak DKI Jakarta dipimpin Gubernur Soerjadi Soedirja,” kata H. Imron Husein, SE.

Pria ajer (murah senyum) ini juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan, khususnya yang berkaitan dengan seni dan budaya Betawi. Saat ini, selain aktif di Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, Haji Imron, begitu ia biasa disapa, tercatat sebagai Ketua Umum Yayasan Tunas Kelape (YTK). Yayasan yang beralamat di Jalan Al Mubarok I Nomor 45-46, RT 009, RW 006, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta ini concern pada pembinaan dan pelestarian seni dan budaya Betawi.

YTK diresmikan pendiriannya pada 7 Mei 2016 di kawasan Puncak Bogor yang dihadiri 24 perwakilan dari Ormas Betawi. H. Imron cerita, YTK merupakan embrio dari Perguruan Pencak Silat Beksi (PPS Beksi) yang didirikan pada 2014. Jika PPS Beksi menonjolkan seni bela diri tradisional Betawi, YTK mengeksplore semua yang berkaitan dengan Betawi, baik di bidang seni, budaya, kuliner, hingga benda-benda bersejarah yang menjadi simbol peradaban masyarakat betawi tempo dulu.

Lantas, faktor apa saja yang mendasari H. Imron Husein begitu peduli terhadap pelestarian segala hal yang berkaitan dengan kebetawian. Berikut penuturannya kepada Syarifudin dan Eko Adi Prihantoro dari Majalah Visioneer dalam sebuah sesi wawancara dengan H Imron Husein. Petikannya:

Pedang Suduk, dahulu digunakan oleh Fatahilah dan Pangeran Jayakarta, menjadi salah satu koleksi benda pusaka H Imron Husein

Sebagai salah satu tokoh masyarakat Betawi, Anda begitu peduli ingin membangkitkan kembali peradaban  Betawi. Sebenarnya, sepeti apa Anda melihat kondisi masyarakat Betawi saat ini?

Memang kondisi masyarakat Betawi saat ini, jika tidak kita maksimalkan dan kita upayakan untuk bangun dari tidur yang berkepenjangan, maka saya khawatir akan semakin “termarginalkan”. Dalam konteks, persaingan seni maupun budaya dibandingkan daerah-daerah lain di Nusantara. Persoalan yang paling mendasar adalah, semua peradaban, dari persoalan budaya itu sendiri, memang harus memiliki legalitas formal. Di mana produk-produk hukum atau dasar-dasar hukum itu menjadi acuan sebuah pijakan regulasi yang dibuat oleh pemerintah.

Saya katakan demikian, karena di daerah-daerah yang sudah sangat terkenal, sebut saja Bali, memang sudah memiliki Perda tentang pelestarian budayanya sekitar 30 tahun lalu. Kemudian Solo dan Yogyakarta sudah memiliki Perda sejak 15 dan 20 tahun lalu. Bahkan Papua, Perdanya sudah ada sejak 11 tahun lalu. Tapi Betawi, Perdanya kok belum ada. Baru kemudian ada political will pemerintah, sehinga lahirlah Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi.

Perda itulah yang menjadi dasar pijakan sehingga kita, masyarakat Betawi, ingin mengekspresikan segala hal berkaitan dengan kebetawian. Salah satunya berkaitan dengan budaya, dan insya Allah akan segera kita realisasikan. Di sisi lain, kami juga membutuhkan munculnya tokoh-tokoh Betawi yang secara legalitas formal menginduk di Badan Musyarawah (Bamus) Betawi.  Tentunya orang-orang itu betul-betul paham dengan situasi saat ini. Karena sudah dibuka pintu gerbang yang luar biasa, bisa dikatakan ini “pintu gerbang emas” seiring lahirnya Perda Nomor 4 Tahun 2015. Jadi, kita, orang Betawi, jangan kelamaan terlena. Betawi harus betul-betul eksis.

Jika orang dari daerah lain bisa memaksimalkan potensi daerahnya, mengapa masyarakat Betawi tidak bisa. Kalau kita hanya mengandalkan dana hibah yang jumlahnya tidak begitu besar dari Pemprov DKI Jakarta, itu justru kontra produktif. Sehingga kita tidak memaksimalkan semua potensi yang berkaitan dengan kebetawian.

Para pengurus Yayasan Tunas Kelape

Tapi, jika kita bisa mensinergikan semua potensi yang ada, inysa Allah output-nya akan luar biasa. Nantinya akan memberikan feedback atau umpan balik untuk kesejahteraan masyarakat. Nah, ini mimpi kami sejak lama, yang pada akhirnya kita ejawantahkan dalam bentuk event-event sebagai wujud memberikan sosisialisasi sekaligus pemahaman kepada kaum Betawi. Kegiatan ini memang saya mulai dari komunitas sendiri.

Bagaimana Anda menanggapi anggapan bahwa orang Betawi itu kolot?

Paradigma lama harus kita buang, seperti yang semula hidupnya konsumtif, tidak kompetitif, malas, suka ngambek, harus diubah. Jadi, kita harus bisa memproyeksikan generasi muda ke depan yang benar-benar kritis, kreatif, komunitaktif, serta mau berkolaborasi.

Karena kelemahan orang Betawi itu dia tidak komunikatif, ego sentrisnya sangat luar biasa. Nah, membangun kolaborasi itu salah satu pintu gerbang. Mau tidak mau kita harus bekerjasama dengan pihak stakeholders. Misalya kepada para pengusaha yang memiliki modal. Inilah bagian yang perlu kita tingkatkan. Kita membangun networking, karena bagaimanapun kita tidak lepas dari percaturan etnik-etnik yang ada di Indonesia.

Menurut Anda, membangkitkan kembali budaya, seni, dan semua yang berkaitan dengan Betawi cukup melalui Perda Nomor 4 Tahun 2015?

Selain Perda Nomor 4 Tahun 2015, ada juga Pergub Nomor 229 Tahun 2016, Pergub Nomor 11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi, hingga Ingub. Produk-produk hukum itu perlu bagi kami, sebagai pijakan hukum. Bagaimana kita mengeksplorasi banyak hal. Seperti ada Perda yang memang memberikan kepada pengusaha berkelas, jika dia berinvestasi dana dalam jumlah sekian, maka dalam per enam bulan dia harus membuat festival Betawi. Festival itu bisa berupa menampilkan kuliner, seni, dan budaya Betawi. Bahkan untuk pengusaha-pengusaha tertentu, dia harus per tiga bulan membuat sebuah festival.

Jika sudah sering melakukan gelaran festival, berarti sumber daya manusianya harus ditingkatkan. Misalnya, kita bicara seni Betawi, salah satunya ada Gambang Keromong. Maka, berapa banyak pelaku seni Gambang Keromong yang ada saat ini. Kemudian untuk kuliner, sebut saja Bir Pletok, berapa banyak pelaku usaha usaha minuman Betawi ini bisa diproduksi. Bir Pletok ini bisa dimasukkan dalam program welcome drink hotel-hotel yang ada di Jakarta. Karena itu, SDM-nya harus siap. Belum lagi bicara penyediaan souvenir. Maka, semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Karena, Pergub Nomor 229 Tahun 2016, Pergub Nomor 11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi, sampai Ingub-nya pun ada. Tinggal bagaimana orang Betawi memaksimalkan dan merealisasikannya.

Bersama Presiden Silat Antar Bangsa, H. Eddy Nalapraya (tengah)

Dari kepedulian ingin memunculkan eksistensi masyarakat Betawi, Anda akhirnya mendirikan Yayasan Tunas Kelape?

Yayasan Tunas Kelade sudah didirikan sebelum Perda Nomor 4 Tahun 2015 itu muncul. YTK merupakan embrio dari Perguruan Pencak Silat Beksi (PPS Beksi). Saya sendiri aktif di berbagai organisasi yang berkaitan dengan kebetawian. Saya bukan siapa-siapa, tapi hati saya terpanggil untuk membangkitkan kembali kebudayaan Betawi. Inysa Allah saya bisa terus menggelorakan semangat membangkitkan eksistensi Betawi.

Makanya, saya bersama-sama teman-teman di YTK berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat Betawi lainnya. Saya akui, karakter orang Betawi itu unik. Dulu, almarhum Kyai Kondang Zainuddin MZ bilang, orang Betawi kalau nggak kena ules (celahnya) susah diajak kompromi.

Apa visi dan misi Yayasan Tuna Kelape?

Misi YTK, bagaimana kita membangun sumber daya manusia dengan memaksimalkan segala potensi yang ada untuk disinergikan. Dalam skala jangka pendek, kami berusaha memberikan kesejahteraan untuk kelompok dulu. Dalam jangka panjang, pada akhirnya kita bisa memberikan kontribusi dalam skala yang lebih luas.

Visi YTK, insya Allah kita bisa eksis dan sejajar dengan negara lain. Misalnya, jika bicara silat Betawi, olahraga bela diri ini bisa sejajar dengan pesilat dari negara lain. Seperti YTK telah sukses menyelenggarakan Festival Pencak Silat Tradisional Betawi ke-8 di Monas, pada Minggu, 22 Juli 2018. Itu bukan tujuan akhir. Festival itu sebuah landasan dan batu loncatan bagaimana kita bisa menghelat festival pencak silat Betawi berskala internasional. Sudah waktunya bela diri tradisional Betawi ini bisa tampil di event-event berkelas, seperti Sea Games, Asian Games, bahkan Olimpiade.

Mengenai keikutsertaan cabang olahraga silat di Olimpiade, 13 tahun lalu pernah diperjuangkan oleh Presiden Pencak Silat antar Bangsa, Haji Eddie Nalapraya. Pada akhirnya silat bisa tampil mengikuti kejuaraan bela diri di Olimpiade. Nah, kita ingin bela diri tradisional Betawi bisa tampil di event-event berskala internasional tersebut.

Jangan lupa juga, Presiden Soeharto pernah bilang bahwa Betawi adalah inti masyarakat Jakarta. Maka, dalam setiap regulasi yang dibuat oleh pemerintah, kata Soeharto, harus melibatkan orang-orang Betawi, baik dalam hal pembangunan infrastruktur, pembangunan SDM-nya, dan program lainnya. Di dalam naskah-naskah kuno juga menyebutkan bahwa orang Betawi itu sebagai Kaum Betawi  yang harus dilibatkan dalam pembangunan, khususnya di Jakarta.

Presiden Soeharto tidak sembarang bicara, karena merujuk pada sebuah peradaban. Peradaban orang Betawi itu sudah ada sebelum Nabi Isa Al Masih lahir.  Jadi memang banyak orang bicara tentang Betawi kekinian yang menyatakan peradaban orang Betawi sudah ada sejak 1527 Masehi, padahal sudah ada jauh sebelum 1527 Masehi.

H Imron Husen saat memberikan sambutan di acara Festival Pencak Silat Tradisional Betawi di Monas

Hal ini karena belum lengkapnya literasi sejarah Betawi itu sendiri. Di sisi lain, menurut kami, yang notabene orang Betawi, berdasarkan fakta ilmiah, jika orang Betawi, jangankan laki-lakinya, perempuannya  saja menikah dengan etnik lain, maka secara genetik, DNA-nya dipastikan 100 persen orang Betawi.

Pembinaan seperti apa yang dilakukan pengurus YTK kepada anggotanya, baik yang berkaitan pelestarian seni, budaya, hingga peningkatan perekonomian?

Kami terus melakukan pembinaan kepada anggota YTK. Dalam batasan normatif, kita awali dengan guyub (kebersamaan) dulu. Bagi orang Betawi, ketika kita bicara program, dia tidak akan merasa bisa terpenuhi, kalau belum menyatukan hatinya. Karena itu, harus guyub dulu di antara kami, sambil kita memberikan pemahaman, membuka wawasan, yang saya istilahkan pengetahuan literasi. Jadi, yang semula dia bicaranya agak gimana gitu, setelah dibuka wawasannya, akan berubah moderat. Artinya, kita ingin membangun karakter orang-orang Betawi dulu.

Jadi, kita harus mempersiapkan dengan matang pembangunan anak bangsa itu dengan pembangunan moral. Basiknya itu adalah akhlakul karimah. Karena seseorang yang pintar tidak dilandasi moral, dia hanya punya kecerdasan intelektual. Ketika diimbangi aspek-aspek moral, dia memiliki kecerdasan emosional. Sehingga, jika orang itu melakukan suatu tindakan, sebelumnya dia sudah memikirkan efek dari tindakan yang diperbuatnya kepada orang lain itu seperti apa. Maka nanti akan muncul kesimbangan. Kalau dikasih jabatan, insya Allah dia amanah.

Kami juga melakukan pembinaan bahwa orang Betawi harus punya kecerdasan spiritual. Karena kalau sudah bicara konteks keagamaan, kalau kita melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, Allah SWT akan memberikan balasan perbuatan baik umatNYA.

Sandiaga Salahuddin Uno ketika masih menjabat Wagub DKI membuka Festival Pencak Sila Tradisional Betawi di Monas

Jadi banyak hal jika kita bicara orang Betawi yang terkenal dengan 4S, yaitu dia santri, bisa main silat, rajin ke surau, dan silaturahim. Itulah ciri khas orang Betawi. Jika personal approach dilakukan dengan cara keagamaan, insya Allah terbangun kebersamaan.

Seiring perkembangan zaman, pola kehidupan manusia mengalami berubah. Kultur dan budaya asli Betawi nyaris tenggelam di Tanah Betawi sendiri. Bagaimana Anda melihat kondisi seperti ini?

Makanya, diperlukan banyak mentor. Para mentor itu harus rajin membaca tentang sejarah dan segala hal yang berkaitan dengan Betawi. Itulah yang saya sebut dengan literasi. Ketika kita sudah mempunyai banyak wawasan, kita akan menjadi individu yang intelek dan moderat, serta suka tabayun. Tabayun itu suka mendengarkan perbedaan-perbedaan di sekitar kita.

Karena, apapun persoalan bangsa ini, saat ini lebih mengedepankan kecerdasan intelektual, tapi kurang dari sisi keagamaan. Pemahaman keagamaan itu baru sebatas kulitnya saja. Kalau dia memahami keagamaan dari sisi komprehensif, kalau dalam agama itu kaffah atau menyeluruh, insya Allah tidak ada perselisihan.

Untuk menghidupkan kembali kebudayaan Betawi, di YTK ada pembinaan seni, budaya, dan segala hal yang berkaitan dengan Betawi. Selain dilakukan pembinaan dan pelatihan di bidang seni dan budaya, di sekretariat YTK juga menyelenggarakan pendidikan untuk anak usia dini (PAUD), pengajian remaja, hingga orang dewasa. Jadi kami ingin menyeimbangkan antara kehidupan dunia dengan sisi kerohanian.

souvenir ondel-ondel, salah satu produksi YTK

Selain menggelar festival silat tradisional Betawi, program YTK lainnya?

 Kami sudah sering melakukan blusukan untuk memberikan motivasi untuk mengeksiskan  kebudayaan Betawi. Betawi ini eksis karena dua hal, pertama silat, kedua santri. Jadi orang Betawi itu identik main pukul dan mengaji. Dari dulu orang Betawi mempunyai prinsip sangat kuat. Hal-hal yang dianggap berseberangan dengan aqidahnya, dia tentang, apapun risikonya. Itulah orang Betawi.

Di tahun 2011, kita telah menyelenggarakan Festival Silat Tradisional Betawi yang pertama. Kegiatan ini dalam rangka menyatukan orang Betawi. Selain ingin memperlihatkan eksistensi dan jati diri orang Betawi. Namun, itu baru sebatas kegiatan lokal. Bahkan hampir tidak menjadi perhatian masyarakat secara umum di Nusantara. Lain festival silat Betawi yang diselenggarakan di Monas.

Penyelenggaraan festival silat ini selain digelar di outdoor juga indoor, yaitu di GOR milik Dispora DKI Jakarta. Kita selalu diberikan kepercayaan, di sisi lain kita juga amanah untuk menjaga kepercayaan yang diberikan pemerintah. Ketika kita sudah menyelenggarakan Festival Silat Tradisional Betawi kedelapan, artinya YTK tidak ada cacat.

Alhamdulillah, selama ini kami istiqomah. Karena, mencari keuntungan sesaat, itu bukan target kami. Tapi bagaimana Betawi, khususnya dari bidang seni dan budaya ke depan bisa berkembang dan menjadi besar, bahkan bisa diakui dunia internasional.

Bersama pemenang Festival Pencak Silat Tradisional Betawi

Jika budaya Betawi diakui dunia internasional, karena Jakarta merupakan Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Karena itu, jika hotel dan tempat-tempat lainnya di Jakarta  bisa menampilkan ikon-ikon Betawi, tentu memberikan dampak positif tak hanya bagi orang Betawi tapi masyarakat lainnya. Jika dimaksimalkan, maka akan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Satu sisi pemerintah daerah diuntungkan, di sisi lain masyarakat juga diuntungkan.

Berapa jumlah paguyuban Betawi yang concern di bidang kebudayaan Betawi?

Untuk silat, misalnya, berdasarkan data statistik, di Indonesia ada sekitar 600 aliran pencak silat. Sebanyak 316 aliran pencak silat ada di Jakarta. Dan dominan adalah jenis bela diri Betawi. Karena masih ada juga pencak silat tradisional Betawi yang dia tidak menginformasikan jenis aliran silatnya.

Silat itu istilah Indonesia. Silat Betawi sendiri ada banyak aliran. Ada Troktok, Syahbandr, Sabeni, Beksi, Jingkrik, dan sebagainya. Jika kita sudah membukukan berbagai aliran bela diri tradisional Betawi, maka bisa menjadi point lebih bagi warga Betawi.

Saat menggelar Festival Silat Tradisional Betawi di Monas, kami memang baru memberikan sebatas Tali Kasih kepada para tokoh dan guru silat Betawi. Mereka begitu tulus dan istiqomah sejak masih bujangan sampai tua renta masih menekuni silat Betawi. Mereka tidak ingin dikenal sebagai siapa-siapa, kecuali hanya sebagai penggiat bela diri yang mengajarkan ilmunya kepada generasi muda.

Makanya, kami mengajak komunitas-komunitas perguruan silat lain untuk menghormati jasa-jasa orang tua kita yang begitu ikhlas mengajarkan ilmu silat Betawi. Jangan kita lupa “Jasmerah”. Kalau melupakan sejarah, kita termasuk orang yang tidak punya peradaban. Semua bangsa-bangsa yang besar di dunia ini, karena warganya betul-betul menghormati dan menghargai sejarah bangsanya.

Orang Betawi identik agamis. Lalu, mengapa orang Betawi zaman dulu umumnya harus bisa main bela diri silat?

Bangsa Indonesia sepanjang saya tahu lahir dari persoalan konflik. Munculnya Indonesia karena imprealisme dan kolonialisme. Lalu, bagaimana orang Betawi pada zaman itu tidak bermain silat. Setiap ada imprealisme dan kolonialisme, maka muncul tokoh-tokoh lokal yang berusaha mempertahankan eksistensi mereka. Bicara eksistensi, ya disesuaikan dengan zamannya waktu itu.

Ahmad Saifullah, Pimpinan Perguruan Pencak Silat Beksi Sejati H. Hasbullah sedang mengajarkan teknik beksi

Jadi, ketika orangtua kita dulu berlatih main pukul, mereka melakukannya tanpa ekspose. Mereka tidak mau dikenal. Kalaupun ada di antara mereka dikenal kemudian hari, biasanya setelah orang itu meninggal. Disebutkanlah tokoh ini, tokoh itu, bahkan sampai ada yang dibuat ceritanya dalam film. Seperti tokoh Pitung, dan Jampang. Lain dengan datangnya agama, khususnya agama Islam di  Indonesia. Para pesiar agama Islam datang ke Indonesia dengan cara kedamaian. Bukan karena konflik.

Kemudian munculnya kemerdekaan, karena hasil perjuangan bangsa Indonesia. Dulu, para pejuang tidak hanya mengeluarkan keringat, tapi juga darah untuk mempertahankan negeri ini dari belenggu para penjajah.

Zaman terus berkembang. Orang-orang Betawi sudah ada yang menjadi PNS, pejabat, dan menggeluti bidang profesi lainnya. Anda melihat ini sebuah kemajuan?

Orang Betawi itu ibarat sebuah kesebelasan, tidak harus semuanya menjadi goal getter. Sekarang sudah ada Ikatan Dokter Betawi, Ikatan Sarjana Ekonomi Betawi, Pengacara Betawi, dan ikatan atau perkumpulan profesi lainnya. Kami berupaya eksis sesuai profesi masing-masing dengan satu tujuan mengangkat harkat dan martabat Betawi.

Orang Betawi itu harus kreatif, dan benar-benar ulet bekerja, tidak pantang menyerah, disiplin, dan jangan lupa tuntas. Kalau kita mengerjakan banyak hal, kalau hanya separuh-separuh, maka tidak akan menyelesaikan masalah.

Ini juga persoalan karakter. Mengubah karakter itu tidak bisa dilakukan bim salabim. Jika semangat pantang menyerah sudah menjadi landasan, insya Allah hasilnya bukan hanya untuk orang Betawi, tapi juga untuk anak bangsa.

Ratusan benda pusaka yang dikoleksi H Imron Husein

Saya sudah membuat sebuah film documenter, judulnya “Betawi Reborn”, artinya bangkit dari tidur yang berkepanjangan. Sekilas cerita dalam film ini ada seorang tokoh Betawi zaman dulu namanya Mat Ji’ih mempunyai seorang murid berpendidikan tinggi. Dia tidak hanya bisa main silat, tapi juga rajin beribadah. Pemuda ini tidak hanya intelektual, tapi mempunyai semangat memelihara bahkan menjaga eksistensi Betawi.

Kalau ada yang mengatakan orang Betawi termarginalkan, mungkin karena SDM-nya yang kurang mumpuni, dan belum siap. Sekarang, anggaran untuk sektor pendidikan di DKI Jakarta begitu besar, sehingga orang-orang Betawi pun bisa mengikuti program pendidikan. Jika orang-orang Betawi berintelektual dan agamis, inysa Allah mereka tidak merasa termarginalkan.

Pemerintah sedang menggalakkan program pariwisata. Peran YTK mendukung pemerintah dari sektor wisata lokal?

Kami sangat mendukung program pariwisata pemerintah. Di Jakarta banyak objek-objek pariwisata yang laik untuk dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Khusus untuk obyek wisata Betawi, bisa mengunjungi setiap wilayah di Jakarta. Seperti di Jakarta Barat, ada objek wisata Betawi di Srengseng Sawah. Di Jakarta Utara, ada obyek wisata Betawi di Marunda. Di Jakarta Pusat, ada objek wisata Betawi di Kelapa Gading sekaligus tempat untuk shopping. Di Jakarta Timur, ada kawasan budaya Betawi di Condet, dan di Jakarta Selatan ada kawasan wisata Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa, serta di area Ragunan.

Tempat-tempat wisata Betawi ini memang hampir semuanya perlu dukungan semua pihak. Tujuannya untuk memaksimalkan potensi Betawi yang akhirnya memberikan dampak perekonomian kepada masyarakat.

Anda juga seorang kolektor benda-benda dan senjata bersejarah Betawi. Bagaimana ceritanya?

Kalau bicara budaya, di setiap daerah memiliki ciri khas yang menunjukkan eksistensi daerah tersebut. Saya tahu sedikit tentang Keris. Sebelum Keris dibuat, justru sudah ada konsep pembuatan Golok Betok. Hanya karena situasi dan lain hal, si Empu membuat Keris terlebih dulu. Namun, konsep pembuatan Golok Betok di Tanah Betawi sudah ada sebelum Keris itu dibuat.

Benda bersejarah lainnya ada Golok Betok, Pisau Raut, Badki-Badik,Pedang Cengkrong peninggalan Pangeran Jayakarta, Trisula Betawi, dan masih banyak lagi benda pusaka yang saya miliki.

Saya sendiri mengkoleksi berbagai benda pusaka dan bersejarah. Mulai benda-benda bersejarah dari Betawi, Jawa, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua. Jumlahnya ada ratusan benda bersejarah. Saya rawat benda-benda bersejarah agar tidak terbengkalai. Bagi saya, benda bersejarah itu sebagai bukti hasil karya anak bangsa dari para leluhur kita yang perlu diberikan perhatian, dalam arti dirawat secara baik. Karena sudah ada payung hukumnya bahwa benda purbakala itu bagian dari aset bangsa.

 

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close