POLITIK

Ketum PB, Tommy Soeharto: Kita Tidak Boleh Bergantung kepada Asing

Bogor,visioneernews.com-Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra menyatakan, Bangsa Indonesia tidak boleh bergantung kepada asing, baik ekonomi dan dan politik.

Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto menyatakan bahwa Bangsa Indonesia saat ini sedang diuji dengan berbagai macam persoalan. Menurutnya, situasi dan kondisi yang sulit bagi rakyat, persoalan kedaulatan yang memengaruhi Ketahanan Nasional saat ini, harus segera diusahakan solusi dan pemecahannya.

“Kita tdak boleh tergantung kepada asing, baik ekonomi dan politik. Karena itu, kita harus memiliki kedaulatan pangan. Karena ke depan,  persoalan ini menjadi sangat penting yang berpengaruh pada eksistensi sebuah bangsa,” kata Tommy Soeharto saat memberikan sambutan Pembukaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) calon legislatif DPR-RI di Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/7/2018)

Berkaitan dengan pangan, Tommy Soeharto teringat pada tahun 1984 almarhum Presiden Soeharto dianugerahi sebuah medali bertuliskan “from rice importer to self sufficiency” dari Food and Agriculture Organization (FAO). Di Tahun 2016, Soeharto juga dianugerahi medali emas karena prestasinya itu. Bahkan Indonesia pada saat itu memberikan bantuan bibit, beras, dan bantuan teknik kepada negara-negara Afrika dan Asean.

“Pandangan  almarhum yang visioner tersebut baru saya sadari, bahwa di masa ini dan masa depan, kedaulatan pangan  akan menunjang kedaulatan bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, krisis pangan dunia yang sedang kita hadapi bersama, akan menjadi alat bagi bangsa-bangsa lain untuk saling menguasai secara geopolitik.

“Bangsa yang besar ini, kini sedang dikepung oleh berbagai kekuatan yang akan mengikis keutuhan kita. Itulah yang kita sering lupa, para politikus hanya berpikir untuk menang dan menguasai simpul-simpul kekuasaan,” ungkapnya.

Putra Bungsu Presiden keenam RI, Mohammad Soeharto ini mengkritik kebanyakan orang yang hanya suka memimpin, tapi tidak mau dipimpin. “Kita lupa bekerjasama sebagai satu tubuh, lupa tentang gotong royong. Kita semua terbuai, hingga lupa makna dari keikhlasan. Ikhlas untuk membangun bangsa dan negara dengan peran dan fungsi kita masing-masing sebagai putera-puteri bangsa,” paparnya. (Syarif)

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close