BUDAYA

Mengintip Peradaban Betawi dari Benda-benda Pusaka

Penulis: Syarifudin Bachwani

Anak-anak Betawi zaman sekarang bisa saja belum banyak mengetahui benda-benda bersejarah serta senjata pusaka yang berasal dari tanah Betawi. Mungkin saja sudah ada yang mendengar benda-benda bersejarah itu, tapi belum melihat bentuk fisiknya.

“Benda-benda  pusaka ini menandakan adanya sebuah peradaban manusia. Di Betawi, konon sudah lama ada peradaban, jauh sebelum Nabi Isa Al Masih lahir ke bumi,” kata H. Imron Husein SE, Ketua Umum Yayasan Tunas Kelape (YTK).

Sebagai salah satu tokoh dari tanah Betawi, H Imron ternyata menyimpan benda-benda pusaka Betawi, selain benda pusaka dari penjuru Nusantara. Tak tanggung-tanggung, koleksi benda pusakanya berjumlah ratusan.

YTK, kata H Imron, sedang melakukan survei dan penelitian bersama para arkeolog dari Universitas Indonesia tentang peradaban Betawi. Petunjuk penelitian dilakukan dari berbagai peninggalan bersejarah di Betawi, baik yang berasal dari benda pusaka, penemuan kerangka manusia zaman dahulu, dan penemuan dari simbol atau tanda-tanda lainnya.

H Imron khawatiir, jika benda-benda pusaka dan bersejarah itu tidak dirawat, maka akan menghilangkan jejak peradaban dan eksistensi Betawi.

“Peradaban manusia sangat identik dengan hadirnya sebuah benda. Bagaimana orang melakukan sesuatu identik dengan apa yang digunakan pada saat itu,” jelasnya.

Menurut Habib Zen Faray, Kurator Benda dan Senjata Pusaka Betawi, tempo dulu di Betawi ada seorang pandai pembuat senjata dan perkakas, seperti pedang, dan  golok. Namanya Empu atau Uyut Daimin.

Untuk golok atau bendo, misalnya, disebutkan Habib Zen, Uyut Daimin menciiptakan golok itu ada tiga macam. Pertama Golok  Sorenan, di Betawi namanya Cangkringan. Ukuran panjang golok ini ada dua macam. Ada yang berukuran 40-50 centimeter dan 30 centimeter. “Keaslian Cangkringan bisa dilihat bentuk goloknya Salam Nunggal. Nama golok ini diambil dari kembang salam,” jelas Habib Zen.

Golok Cangkringan berukuran 40-50 centimeter, kata Habib Zen, biaya dipakai para jawara Betawi tempo dulu pada malam hari. Sementara yang berukuran 30 centimeter biasanya dipakai kyai, santri, pada pagi, siang, dan malam hari.

Kedua, lanjutnya, Uyut Daimin menciptakan Golok Kembang Kacang. Orang Betawi zaman dulu mengartikan “kembang” itu “wangi” dan “kacang” maknanya “permulaan.” Secara harafiah, maka makna “Kembang Kacang” adalah “diawali dengan yang bagus-bagus”.

Kemudian ketiga, Uyut Daimin menciptakan Golok Ujung Turun.  Golok jenis ini ada tujuh macam, sama seperti Golok Cangkringan (Salam Nunggal),  dan Kembang Kacang.

Habib Zen Faray, Kurator Benda-benda Pusaka

“Jadi, dari tiga jenis golok yang dibuat Uyut Daimin, masing-masing memiliki tujuh  ragam golok, sehingga jumlahnya ada 21 jenis golok Betawi,” papar Habib Zen.

Habib Zen mengungkapkan, Uyut Daimin ketika hendak membuat jenis golok selalu memperhatikan karakter atau kebiasaan dari masyarakat di tempat itu. Dia mencontohkan orang Betawi Slipi, Rawa Belong, dan Kemanggisan, bentuk goloknya lebar-lebar.

“Itu namanya golok untuk kerja, karena orang-orang kampung di daerah ini suka bekerja,” imbuhnya.

Berbeda dengan orang Betawi Pondok Pinang, mereka tidak mau pakai Golok Salam Nunggal. Mereka maunya menggunakan Golok Kembang Kacang. Depan golok itu bentuknya agak lebar.

“Karena, rata-rata orang Betawi Pondok Pinang pengrajin kayu. Bahkan orang Betawi Pondok Pinang kalau lihat Golok Salam Nunggal, dia pasti bilang golok kaliber,” pungkasnya.

Bahan baku golok-golok yang dibuat Uyut Daimin, sambungnya, semuanya dibuat campuran di antaranya dari baja, nikel, logam besi, sehingga terlihat pamornya.

“Jadi, kalau golok atau senjata ini direndam dalam waktu lama, akan terlihat pamornya. Golok buatan Uyut Daimin semakin lama usianya, maka semakin muncul kekuatannya. Beda dengan golok biasa, misalnya yang hanya dibuat dengan baja saja,” jelasnya.

Habib Zen menambahkan, di Betawi ada adab tidak tertulis, tapi lebih paten daripada hukum tertulis dalam memperlakukan benda atau senjata pusaka. Benda pusaka itu, misalnya, tidak boleh dilangkahi orang. Kemudian, cara memegang hingga menyerahkan dari orang yang usianya lebih muda kepada yang lebih tua pun ada tata kramanya. Posisi kedua telapan anak muda itu berada lebih bawah badan golok bila ingin diserahkan kepada yang lebih tua.

Habib Zen Faray mencontohkan tata krama ketika memberikan benda atau senjata pusaka

Selain golok, masih menurut Habib Zen, Betawi memiliki banyak ragam benda dan senjata pusaka. Sebut saja Trisula Betawi, Kacit (alat membelah buah pinang), Badik-badik—yang perkembangannya sekarang biasa dikenakan Abang dan None Jakarta, hingga Pedang Suduk yang dulu digunakan oleh Fatahillah dan Pangeran Jakarta. Dan semua senjata-senjata pusaka itu, saat ini dimiliki oleh H Imron Husein, Ketua YTK.

“Pedang Suduk yang dipedang oleh Fatahillah dan Pangeran Jayakarta ini pedang berkasta. Orang biasanya sulit untuk memiliki. Karena, Uyut Daimin jika ingin membuat senjata  untuk orang-orang berkasta zaman dulu, dia terlebih dulu menjalankan ibadah puasa selama tujuh  bulan. Karena, beliau tidak ingin sembarangan membuat senjata untuk orang yang dihormati ketika itu,” tutur Habib Zen.

Habib Zen bahkan mengklaim bahwa benda-benda dan senjata pusaka dari Betawi jumlahnya lebih banyak dibandingkan daerah lain. Dasarnya, Betawi tempo dulu tanahnya masih subur, dan orang Betawi menggunakan banyak perkakas serta senjata dalam melakukan aktivitas sehari-hari ketika itu.

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close