ASF Positif di Boven Digoel, Barantin Perketat Pengawasan Lalu Lintas Babi di Merauke
Merauke. VisioneerNews.Com — Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Papua Selatan memperkuat kewaspadaan terhadap ancaman African Swine Fever (ASF), menyusul ditemukannya kasus positif penyakit tersebut pada babi di Distrik Arimob, Kabupaten Boven Digoel.
Penguatan kewaspadaan dilakukan melalui Sosialisasi Kewaspadaan Dini terhadap Penyakit Babi yang digelar bersama Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke di Kantor Bupati Merauke, Sabtu (22/8). Kegiatan tersebut melibatkan lintas instansi, Balai Veteriner Jayapura, Majelis Rakyat Papua, serta para peternak babi.
Kepala Karantina Papua Selatan, Irsan Nuhantoro, mengatakan peningkatan kewaspadaan diperlukan untuk mencegah ASF masuk dan menyebar ke wilayah Merauke. Terlebih, populasi babi di Papua Selatan mencapai 16.214 ekor, dengan sekitar 5.000 ekor berada di Kabupaten Merauke.
“Pengawasan perlu diperkuat, terutama terhadap lalu lintas babi dan produk turunannya. Biosekuriti di tingkat peternakan juga harus menjadi perhatian bersama,” ujar Irsan dalam siaran pers di Merauke, Papua Selatan, Senin, (24/8).
Berdasarkan laporan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sekitar 1.100 ekor babi dilaporkan mati di tujuh distrik di Kabupaten Boven Digoel pada April 2026. Selanjutnya, pada Juli 2026, kematian babi di Distrik Arimob dinyatakan positif ASF berdasarkan hasil pengujian Balai Veteriner Jayapura.
Dari sisi perkarantinaan, pengawasan lalu lintas babi dan produk turunannya diperketat, khususnya pada jalur darat Boven Digoel–Merauke, Bandara Mopah, dan pelabuhan laut.
Irsan juga mengingatkan bahwa potensi penyebaran ASF tidak hanya berasal dari lalu lintas ternak dan kendaraan. Faktor alam, termasuk pergerakan babi hutan dan aliran sungai, juga perlu diwaspadai.
Baca Juga artikel berita: https://www.visioneernews.com/2026/08/deep-talk-dr-aisah-dahlan-di-surabaya.html?m=1
Karena itu, peternak diimbau memperkuat penerapan biosekuriti dengan menjaga kebersihan kandang, penggunaan disinfektan, menggunakan pakaian dan alas kaki khusus, membatasi akses pengunjung, memastikan ternak berasal dari sumber terpercaya, serta tidak memberikan pakan sisa sebelum dimasak hingga mendidih.
Sementara itu, Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze mengingatkan seluruh pihak untuk bersama-sama mengantisipasi potensi masuknya ASF ke wilayah Merauke. Pengawasan lalu lintas ternak dan penerapan manajemen pemeliharaan yang baik dinilai menjadi kunci dalam melindungi peternak lokal.
“Kita perlu memperkuat kerja sama lintas instansi agar potensi masuknya ASF dapat dicegah dan keberlangsungan peternakan babi di Merauke tetap terjaga,” kata Yoseph.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah bersama instansi terkait akan memperkuat koordinasi melalui pembentukan Tim Satgas Pengendalian Wabah Penyakit Menular Hewan, penyusunan SOP tanggap darurat ASF, penyaluran bantuan teknis, serta vaksinasi 1.000 dosis di wilayah penyangga Jair dan Mandobo.
Penguatan pengawasan dan biosekuriti tersebut diharapkan mampu mencegah penyebaran ASF sekaligus melindungi populasi ternak, keberlangsungan usaha peternak, dan ketahanan pangan masyarakat Papua Selatan.
Narahubung:
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Utama Badan Karantina Indonesia
(Riski)

