Ad
Gambar dari Blogger

Meski Efisiensi Anggaran, Puskesmas Rambang Kuang Tetap Gencarkan Penyelidikan Epidemiologi untuk Cegah DBD

 Meski Efisiensi Anggaran, Puskesmas Rambang Kuang Tetap Gencarkan Penyelidikan Epidemiologi untuk Cegah DBD

OGAN ILIR. VisioneerNews.Com – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Puskesmas Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir, tetap menunjukkan komitmennya dalam melindungi kesehatan masyarakat melalui kegiatan Penyelidikan Epidemiologi (PE) sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerjanya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Tanjung Bulan pada 28 Februari 2026, kemudian berlanjut ke beberapa desa lainnya pada 21 Mei 2026. Tim kesehatan turun langsung ke lapangan melakukan pemeriksaan lingkungan, penyelidikan epidemiologi, edukasi kepada masyarakat, hingga mengidentifikasi potensi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebab DBD.

Melalui program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), petugas juga mengajak masyarakat untuk terus menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta menerapkan berbagai langkah pencegahan lainnya.

Kepala Puskesmas Rambang Kuang, Lince Sripurwani, S.K.M., M.Si, menjelaskan bahwa kegiatan Penyelidikan Epidemiologi tetap berjalan meskipun frekuensinya harus disesuaikan akibat kebijakan efisiensi anggaran.

Baca Juga artikel berita: https://www.visioneernews.com/2026/07/momen-bersejarah-polres-ogan-ilir-akbp.html?m=1

"Kami tetap berkomitmen turun langsung ke masyarakat. Memang karena adanya efisiensi anggaran, kegiatan Penyelidikan Epidemiologi tidak lagi dapat dilakukan setiap bulan. Namun pelayanan, pemantauan, dan pengawasan kesehatan masyarakat tetap berjalan sesuai kemampuan yang ada," ujar Lince, Sabtu (18 Juli 2026).

Ia juga meluruskan anggapan sebagian masyarakat yang menilai petugas kesehatan jarang turun ke lapangan.

Menurutnya, seluruh kegiatan telah dilaksanakan sesuai jadwal dan terdokumentasi dengan baik.

"Kasihan teman-teman petugas jika dikatakan tidak pernah bekerja. Mereka turun langsung ke desa-desa melakukan pemeriksaan lingkungan, penyuluhan kesehatan, edukasi masyarakat, hingga Penyelidikan Epidemiologi. Semua kegiatan itu ada dokumentasinya," tegasnya.

"Fogging Dilakukan Berdasarkan Hasil Penyelidikan Epidemiologi"

Lince menjelaskan bahwa fogging atau pengasapan bukan merupakan tindakan yang dilakukan secara otomatis hanya karena ditemukan banyak nyamuk atau adanya permintaan masyarakat.

Menurutnya, pelaksanaan fogging harus mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan dan dilakukan berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE).

Fogging umumnya dilakukan apabila memenuhi dua syarat utama, yaitu:

Terdapat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terkonfirmasi atau suspek.

Hasil Penyelidikan Epidemiologi menunjukkan adanya potensi penularan, seperti:

Ditemukan penderita DBD lain atau warga yang mengalami demam mengarah ke DBD di sekitar lokasi. 

Ditemukan jentik nyamuk Aedes aegypti di lingkungan sekitar.

 Wilayah dinilai memiliki risiko tinggi terjadinya penularan.

Ia menambahkan, pelaksanaan fogging biasanya dilakukan sebanyak dua siklus dengan interval tujuh hari. Hal ini bertujuan memutus siklus hidup nyamuk, sehingga nyamuk yang baru menetas setelah penyemprotan pertama juga dapat diberantas.

Namun demikian, fogging tetap harus dibarengi dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, karena pengasapan hanya efektif membunuh nyamuk dewasa dan tidak mampu mematikan telur maupun jentik nyamuk.

"Karena itu, fogging tidak dianjurkan dilakukan hanya karena banyak nyamuk atau semata-mata atas permintaan masyarakat tanpa adanya indikasi epidemiologi yang jelas. Upaya paling efektif tetap dimulai dari menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat berkembang biaknya nyamuk," jelas Lince.

Di akhir keterangannya, Lince mengajak seluruh masyarakat Kecamatan Rambang Kuang untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan aktif melakukan PSN 3M Plus secara rutin.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada petugas kesehatan, tetapi juga memerlukan peran aktif seluruh masyarakat.

Melalui sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan penyebaran Demam Berdarah Dengue di wilayah Kecamatan Rambang Kuang dapat ditekan sehingga tercipta lingkungan yang sehat, bersih, aman, dan bebas dari ancaman DBD.

Ayo Cegah DBD dengan PSN 3M Plus:

* Menguras tempat penampungan air secara rutin.

* Menutup rapat seluruh tempat penyimpanan air.

* Mendaur ulang atau mengubur barang bekas yang dapat menampung air.

* Menaburkan larvasida bila diperlukan sesuai anjuran petugas kesehatan.

* Menghindari gigitan nyamuk dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan perlindungan diri.


Laporan: Ketua Tim Pewarta Indonesia Independent.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Meski Efisiensi Anggaran, Puskesmas Rambang Kuang Tetap Gencarkan Penyelidikan Epidemiologi untuk Cegah DBD
  • Meski Efisiensi Anggaran, Puskesmas Rambang Kuang Tetap Gencarkan Penyelidikan Epidemiologi untuk Cegah DBD
  • Meski Efisiensi Anggaran, Puskesmas Rambang Kuang Tetap Gencarkan Penyelidikan Epidemiologi untuk Cegah DBD
  • Meski Efisiensi Anggaran, Puskesmas Rambang Kuang Tetap Gencarkan Penyelidikan Epidemiologi untuk Cegah DBD
  • Meski Efisiensi Anggaran, Puskesmas Rambang Kuang Tetap Gencarkan Penyelidikan Epidemiologi untuk Cegah DBD
  • Meski Efisiensi Anggaran, Puskesmas Rambang Kuang Tetap Gencarkan Penyelidikan Epidemiologi untuk Cegah DBD

Posting Komentar

Gambar dari Blogger
Gambar dari Blogger
Ad