JAKARTA. Visioneernews.com — Pernyataan komika sekaligus pengamat sosial Pandji Pragiwaksono kembali menggemparkan ruang publik setelah potongan videonya yang mengkritik kondisi keadilan dan kekuasaan di Indonesia viral di media sosial. Ucapan tersebut memantik perdebatan luas dan membelah opini publik.
Dalam potongan video yang beredar, Pandji menyampaikan kritik keras terhadap penegakan hukum dan etika bernegara. Dengan gaya satir dan lugas, ia menyoroti berbagai fenomena yang dinilainya mencederai rasa keadilan masyarakat.
“Soal keadilan, hari ini kita cuma bisa berharap pada diri kita sendiri. Mau berharap sama siapa? Polisi membunuh, tentara berpolitik, presiden memaafkan koruptor, wapres kita… Gibran,” ujar Pandji dalam video tersebut.
Pernyataan itu dinilai mencerminkan kegelisahan sebagian masyarakat yang menilai kepercayaan terhadap institusi negara kian melemah. Pandji menyinggung isu aparat penegak hukum yang terseret kasus kekerasan, peran militer yang dinilai mulai memasuki ranah politik, serta sikap negara yang dianggap terlalu lunak terhadap pelaku korupsi.
Respons publik pun beragam. Sebagian warganet menyebut kritik Pandji sebagai suara kejujuran dan representasi keresahan rakyat yang selama ini terpendam. Namun, tidak sedikit pula yang menilai pernyataan tersebut berlebihan, provokatif, bahkan sarat kepentingan politik.
Baca Juga: https://www.visioneernews.com/2026/01/jaksa-pengadaan-chromebook-oleh-nadiem.html
Meski menuai pro dan kontra, pernyataan Pandji kembali membuka ruang diskusi tentang posisi rakyat dalam sistem demokrasi. Ketika kepercayaan terhadap lembaga negara menurun, muncul pertanyaan mendasar: kepada siapa masyarakat harus menggantungkan harapan akan keadilan?
Pandji menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukan bertujuan memprovokasi, melainkan mendorong publik agar tetap kritis, sadar, dan berani bersuara. Menurutnya, ketika sistem dinilai gagal menjaga nilai keadilan, tanggung jawab moral warga negara justru semakin besar.
Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi opini, pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kritik—meski pahit—merupakan bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Apakah kritik tersebut akan melahirkan perbaikan atau justru memperdalam perpecahan, bergantung pada cara negara dan masyarakat meresponsnya.
Isu keadilan publik, sebagaimana kembali mencuat lewat pernyataan Pandji, tidak semata soal hukum, tetapi juga menyangkut kepercayaan, keberanian bersuara, serta konsistensi negara dalam menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat.
Sumber: Media sosial Facebook

0 Komentar