Mahasiswa KKN Unsika Gotong Royong dan Berkolaborasi Bersama Warga Desa Sukamulya

Mahasiswa KKN Unsika Gotong Royong dan Berkolaborasi Bersama Warga Desa Sukamulya  

Karawang. Visioneernews.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) bersama masyarakat Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, melaksanakan rangkaian kegiatan lingkungan yang diawali dengan gotong royong rutin warga, dilanjutkan dengan pembangunan insinerator atau tempat pembakaran sampah minim asap, serta pemasangan papan edukasi tentang pengolahan limbah sampah, Minggu (04/1/26). Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan desa.

Kegiatan diawali dengan gotong royong rutin yang telah menjadi tradisi masyarakat Desa Sukamulya sejak puluhan tahun lalu. Gotong royong ini dilaksanakan secara berkala satu minggu sekali dengan lokasi yang berpindah-pindah, menyesuaikan kebutuhan dan tingkat urgensi lingkungan desa. Pada pelaksanaan kali ini, kerja bakti difokuskan di jalur Panyawangan, salah satu jalur utama desa yang juga menjadi akses menuju kawasan wisata.

Pemilihan jalur Panyawangan sebagai lokasi gotong-royong bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan, sekaligus mendukung potensi pariwisata desa agar tetap asri, bersih, dan tertata. Jalur tersebut dinilai memiliki peran penting karena sering dilalui masyarakat serta pengunjung dari luar desa.

Baca Juga: https://www.visioneernews.com/2026/01/jaksa-pengadaan-chromebook-oleh-nadiem.html

Kegiatan gotong-royong dilaksanakan pada pagi hari, dimulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Warga Desa Sukamulya bersama mahasiswa KKN UNSIKA tampak antusias mengikuti kegiatan, mulai dari membersihkan sampah, merapikan rumput liar, hingga menata lingkungan di sepanjang jalur Panyawangan. 

Kehadiran mahasiswa KKN turut menambah semangat warga dalam menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama. Ketua RW 01 Desa Sukamulya, Yadi, menjelaskan bahwa kerja bakti merupakan budaya turun-temurun yang telah dilaksanakan sejak awal berdirinya Desa Sukamulya sekitar 43 tahun yang lalu. 

Ia menuturkan bahwa gotong-royong menjadi salah satu ciri khas kehidupan sosial masyarakat desa. “Sejak awal adanya Desa Sukamulya, kerja bakti sudah berjalan. Dulu kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Senin. Namun setelah dua periode kepemimpinan lurah, pelaksanaannya dialihkan menjadi setiap hari Minggu agar lebih menyesuaikan dengan waktu luang warga,” ujar Yadi.

Ia juga menyampaikan bahwa tingkat partisipasi warga dalam kegiatan gotong-royong tidak selalu sama setiap minggunya. Dalam kondisi tertentu, jumlah warga yang ikut serta bisa mencapai sekitar 450 orang, namun pada waktu lain bisa lebih sedikit, tergantung pada kesibukan dan antusiasme masyarakat.

“Kadang warga ramai dan antusias, kadang juga tidak. Semua tergantung kondisi dan semangat warga saat itu,” tambahnya.

Baca Juga: https://www.visioneernews.com/2026/01/preman-mabuk-keroyok-warga-di-rasuna.html

Yadi juga menjelaskan bahwa penentuan lokasi gotong-royong dilakukan berdasarkan tingkat urgensi. Lokasi yang dianggap paling membutuhkan penanganan akan diprioritaskan terlebih dahulu agar kebersihan dan kenyamanan lingkungan desa tetap terjaga.

Setelah kegiatan gotong royong selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan program kerja mahasiswa KKN Universitas Singaperbangsa Karawang di bidang lingkungan, yaitu pembuatan insinerator atau tempat pembakaran sampah minim asap. Pembuatan insinerator ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah serta kebiasaan pembakaran sampah secara terbuka yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan dan pencemaran udara.

Insinerator tersebut dirancang dengan sistem sederhana agar pembakaran sampah dapat dilakukan dengan lebih aman dan menghasilkan asap yang minimal. Fasilitas ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengelolaan sampah bagi masyarakat, khususnya untuk sampah tertentu yang sulit dikelola secara mandiri.

Sebagai bentuk penguatan edukasi, mahasiswa KKN UNSIKA juga melakukan pemasangan papan edukasi tentang pengolahan dan penguraian limbah sampah di lokasi yang berdekatan dengan insinerator. 

Papan edukasi tersebut mengusung judul “Berapa Lama Sampah Terurai?” dan berisi informasi mengenai waktu penguraian berbagai jenis sampah, mulai dari sampah yang tidak terurai, 500 tahun, 200 tahun, 20 tahun, hingga 1 bulan. Informasi ini disajikan secara sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Salah seorang warga Desa Sukamulya yang merupakan ibu rumah tangga mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah masih perlu terus ditingkatkan. “Memang masih banyak warga yang kurang sadar soal sampah. Kadang masih ada yang buang sembarangan karena dianggap sepele," ungkapnya.

Perangkat Desa Sukamulya mengapresiasi keterlibatan mahasiswa KKN Universitas Singaperbangsa Karawang dalam rangkaian kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat sangat membantu pemerintah desa dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup yang lebih bersih dan sehat.


Melalui rangkaian kegiatan gotong-royong, pembangunan insinerator minim asap, serta pemasangan papan edukasi sampah ini, diharapkan masyarakat Desa Sukamulya dapat semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah dengan bijak. Pemerintah desa bersama mahasiswa KKN UNSIKA berharap kegiatan ini menjadi langkah awal menuju lingkungan Desa Sukamulya yang bersih, nyaman, sehat, dan berkelanjutan.* (H)

Posting Komentar

0 Komentar