Mengenang Irjen Pol Firman Gani, Jenderal Bintang Dua yang Dikenal Berani dan Berintegritas
![]() |
| Dokumentasi foto Irjen Pol Firman Gani, Jenderal Bintang Dua yang Humanis |
JAKARTA, VisioneerNews.Com – Sosok almarhum Irjen Pol. Drs. Firman Gani, S.H., hingga kini masih dikenang sebagai salah satu putra terbaik bangsa yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Meski lahir di Bandung dan tumbuh besar di Jakarta, Firman Gani memiliki ikatan kuat dengan Provinsi Lampung. Ayahnya, Letnan Kolonel (Letkol) AD Harun Gani, merupakan putra asli Lampung. Karena itu, sosok Firman Gani juga menjadi kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat di tanah leluhur sang ayah.
Lahir pada 30 Desember 1952, Firman Gani tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi kedisiplinan, keberanian, dan nilai-nilai pengabdian. Pilihannya untuk menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian menjadi awal dari perjalanan panjangnya hingga mencapai pangkat Inspektur Jenderal Polisi.
Meniti Karier dari Brimob hingga Jajaran Puncak Polri
Mengutip berbagai sumber biografi, Firman Gani merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1974. Ia mengawali kariernya sebagai Komandan Peleton Brigade Mobil (Brimob) pada 1975.
Kariernya kemudian terus berkembang. Ia dipercaya menjabat sebagai Komandan Kompi Brimob Polda Metro Jaya, sebelum mendapat penugasan sebagai Komandan Satuan Brimob di Polda Kalimantan Barat. Pada 1986, ia dimutasi ke Ujung Pandang untuk mengemban jabatan yang sama.
Setahun kemudian, Firman Gani dipercaya menjadi Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Majene. Pengalaman dan kepemimpinannya kemudian membawanya pada sejumlah penugasan strategis, termasuk sebagai ajudan Wakil Presiden dan selanjutnya ajudan Presiden B.J. Habibie.
Pada 1999, Firman Gani dipercaya memimpin Korps Brimob Polri. Kariernya semakin menanjak setelah dipercaya menjadi Kapolda Maluku pada 2000, Kapolda Sulawesi Selatan pada 2001, dan Kapolda Jawa Timur pada 2003.
Baca Juga artikel berita: https://www.visioneernews.com/2026/07/akp-syamsul-bahri-bhayangkara-pejuang.html?m=1
Puncak kiprahnya di wilayah ibu kota terjadi ketika ia dilantik sebagai Kapolda Metro Jaya pada 16 Juli 2004.
Sebagai Kapolda Metro Jaya, Firman Gani dikenal sebagai sosok perwira yang tegas, berani, namun tetap mengedepankan komunikasi dan pendekatan humanis. Di tengah kompleksitas persoalan keamanan, sosial, dan politik di Jakarta, ia dikenal mampu membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Penggagas Awal Densus 88 Antiteror
Salah satu jejak penting dalam perjalanan karier Firman Gani adalah perannya dalam pengembangan satuan khusus antiteror Polri.
Saat menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, Firman Gani dikenal sebagai salah satu tokoh yang menggagas pembentukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Satuan tersebut kemudian diresmikan pada 26 Agustus 2004, dengan AKBP Tito Karnavian sebagai komandan pertamanya.
Setelah menyelesaikan pengabdiannya di sejumlah jabatan strategis, Firman Gani dipercaya menjabat sebagai Kepala Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespim Polri), yang menjadi jabatan terakhirnya di lingkungan kepolisian.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Firman Gani juga menerima berbagai penghargaan dan tanda jasa. Ia tercatat memiliki pengalaman panjang dalam penanganan berbagai persoalan keamanan, pengamanan agenda nasional, penanganan konflik, hingga pemberantasan kejahatan terorganisasi.
Wafat pada 2013, Dimakamkan di TMP Kalibata
Irjen Pol. Firman Gani meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, pada 19 Januari 2013 dalam usia 60 tahun setelah mengalami stroke.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Kepergiannya meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan sejarah kepolisian Indonesia. Sosoknya dikenang sebagai perwira yang memiliki keberanian, ketegasan, pengalaman panjang, serta komitmen terhadap pengabdian.
Jejak Pengabdian yang Diteruskan Generasi Berikutnya
Di balik perjalanan panjang Firman Gani, terdapat sosok perempuan yang setia mendampingi hingga akhir hayatnya, yakni Hj. Fifi Syarifah Kabul. Selain dikenal sebagai istri almarhum, Fifi Syarifah juga pernah dikenal sebagai artis dan penyanyi pada era sebelumnya.
Kini, jejak pengabdian keluarga tersebut terus berlanjut melalui putra mereka, AKBP H. Alrasyidin Fajri, S.H., S.I.K., M.Si., yang mengikuti jejak sang ayah dengan berkarier di institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Regenerasi tersebut menjadi gambaran bahwa nilai-nilai pengabdian, disiplin, dan kecintaan terhadap institusi kepolisian dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi banyak pihak, mengenang Firman Gani bukan sekadar mengingat sosok seorang jenderal. Lebih dari itu, perjalanan hidupnya menjadi gambaran bahwa kerja keras, kedisiplinan, keberanian, dan integritas mampu membawa seseorang menapaki perjalanan panjang hingga mencapai panggung nasional.
Nama dan pengabdiannya pun tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan Polri sekaligus kebanggaan bagi keluarga dan tanah leluhur sang ayah di Provinsi Lampung.
(Dion)
