JAKARTA | Visioneernews.com — Band legendaris Slank kembali menggebrak jagat musik nasional sekaligus ruang diskursus publik dengan merilis album independen terbarunya bertajuk “Republik Fufufafa”, Sabtu (27/12/2025). Album ini langsung menyedot perhatian luas, bukan hanya dari kalangan Slankers, tetapi juga netizen hingga elite politik Tanah Air.
Rilisan tersebut menjadi penanda kuat kembalinya Slank ke akar musikal dan sikap kritis yang pernah mengantarkan mereka sebagai simbol perlawanan sosial sejak era 1980-an. Di tengah lanskap musik yang kian pragmatis dan industri yang sarat kompromi, Slank justru memilih jalur independen dengan muatan kritik politik yang lugas dan tanpa basa-basi.
Langkah ini dinilai kontras dengan posisi Slank pada periode sebelumnya, khususnya di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, ketika band yang digawangi Bimbim, Kaka, Ivanka, Abdee, dan Ridho itu kerap menunjukkan dukungan terbuka melalui karya-karya musik bernuansa optimisme dan nasionalisme.
Baca Juga: https://www.visioneernews.com/2025/12/kesbangpol-majalengka-kunjungi.html
Kini, memasuki akhir 2025, Slank seolah “pulang kampung” ke roh awal mereka—musik sebagai alat kritik sosial. Album Republik Fufufafa menghadirkan warna heavy rock dan glam rock yang kental, dengan aransemen keras, lirik satir, dan nada protes yang tajam terhadap perilaku elite, kekuasaan, dan realitas demokrasi.
“Ini bukan soal nostalgia, tapi soal kejujuran,” tulis Slank dalam pernyataan singkat yang beredar di media sosial mereka. Album ini disebut sebagai refleksi kegelisahan atas kondisi sosial-politik yang dirasakan kian menjauh dari aspirasi rakyat.
Perjalanan panjang Slank sebagai musisi legendaris memang tak pernah mulus. Berbagai fase pasang surut, tekanan industri, hingga tuntutan mengikuti zaman telah mereka lalui. Namun, rilisan ini menunjukkan bahwa Slank masih memilih berdiri di jalur idealisme—meski berisiko dan tak selalu sejalan dengan arus utama.
Para pengamat musik menilai Republik Fufufafa bukan sekadar album, melainkan pernyataan sikap. Sebuah “hadiah akhir tahun” yang menegaskan bahwa musik kritik belum mati, dan Slank masih menjadi salah satu penjaga utamanya di panggung musik Indonesia.
Dengan album ini, Slank kembali menempatkan diri sebagai band yang tak hanya menghibur, tetapi juga menggugat—mengajak publik untuk berpikir, bertanya, dan bersuara.
(Dion)

0 Komentar